JEBAKAN MEDIA SOSIAL: KESENJANGAN
DIGITAL PERPARAH PENYEBARAN HOAX DAN PICU POLARISASI
Teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) menjadi salah satu teknologi yang berkembang dengan sangat pesat bahkan
dapat mempengaruhi kehidupan beberapa decade terakhir. Teknologi ini menjadi
bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan masyarakat karena telah
mengubah cara manusia dalam berkomunikasi dan membawa manusia pada era
informasi, suatu era dimana informasi menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi
manusia.
Keberadaan teknologi informasi dan
komunikasi ada kaitannya dengan media sosial yang saat ini tengah mencapai
puncak kejayaannya. Hal ini terjadi karena media sosial mengijinkan siapapun
untuk dapat bertukar informasi dengan seluruh penggunanya. Keberadaan media
sosial membuat informasi yang belum terverifikasi benar dapat tersebar secara
cepat. Hanya dalam hitungan detik, suatu informasi dapat langsung tersebar dan
dengan mudah diakses oleh para pengguna media sosial.
Hoax merupakan
informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Dengan kata
lain, hoax juga dapat diartikan sebagai upaya pemutarbalikan
fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan tetapi tidak dapat
terbukti kebenarannya. Hoax bertujuan untuk membuat opini
public, menggiring opini public, membentuk persepsi juga having
fun untuk menguji kecerdasan dan ketelitian para pengguna media
sosial. Namun, penggunaan teknologi yang tidak merata (kesenjangan digital)
dapat menjadi salah satu faktor terjadinya penyebaran hoax bahkan polarisasi
masyarakat.
Kesenjangan digital memperparah
polarisasi karena membatasi akses masyarakat terhadap informasi yang beragam.
Masyarakat hanya terpapar informasi dari satu sisi saja, sehingga mudah
terjebak dalam “gelembung filter” dan memperkuat bias mereka. Berikut merupakan
tantangan yang menjadi pemicu terjadinya penyebaran hoax dan
polarisasi:
1. Informasi Berlebihan dan post-Truth:
Masyarakat saat ini memiliki akses luas
ke informasi melalui internet. Namun, ketika informasi berlebihan, orang
cenderung memprosesnya dengan jalan pintas. Konsep post-truth muncul,
di mana kebenaran tidak hanya didasarkan pada fakta, tetapi juga pada jaringan
emosional orang-orang yang memiliki pendapat serupa. Informasi yang
diulang-ulang dapat dianggap sebagai kebenaran, terlepas dari kebenaran
faktualnya.
2. Peran Pemerintah dan Masyarakat:
Pemerintah memiliki keterbatasan dalam
mengontrol informasi online karena setiap orang dapat menjadi sumber informasi.
Masyarakat perlu berperan aktif dalam memerangi hoaks dengan memperkuat
literasi digital dan membagikan informasi yang benar
3. Pentingnya Ruang Digital yang Sehat
dan Aman:
Pengguna media sosial harus menjaga
ruang digital agar bebas dari hoaks dan konten berbahaya. Percepatan literasi
digital dan pemahaman tentang cara memeriksa kebenaran informasi sangat penting
untuk mengatasi masalah ini
4. Kesenjangan Digital dan Akses
Informasi:
Kesenjangan digital merujuk pada
ketidaksetaraan dalam akses dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.
Beberapa orang memiliki akses yang lebih baik ke internet, sementara yang lain
tidak. Orang-orang dengan akses terbatas mungkin lebih rentan terhadap penyebaran
hoaks karena informasi yang mereka terima terbatas dan mungkin tidak
diverifikasi dengan baik.
5. Algoritma dan Filter Bubble:
Algoritma media sosial memengaruhi apa
yang kita lihat di feed berdasarkan preferensi sebelumnya. Ini menciptakan
filter bubble, di mana kita hanya terpapar pada pandangan yang sejalan dengan
kita. Filter bubble dapat memperkuat polarisasi karena kita cenderung
mengabaikan informasi yang bertentangan dengan pandangan kita
Kesenjangan digital merupakan tantangan
yang kompleks dengan dampak yang luas. Namun, dengan upaya kolektif dan
komitmen yang kuat, kita dapat membangun jembatan digital dan menciptakan
masyarakat yang lebih terhubung dan inklusif. Menangani kesenjangan
digital bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen
masyarakat. Kita semua dapat berkontribusi dengan meningkatkan kesadaran
tentang masalah ini, mendukung inisiatif yang bertujuan untuk menjembatani
kesenjangan digital, dan menggunakan teknologi digital secara bertanggung
jawab untuk kebaikan.
Dengan bekerja sama kita dapat
membangun masa depan yang lebih cerah di mana semua orang memiliki akses yang
sama terhadap informasi dan peluang, di mana suara semua orang didengar dan di
mana teknologi digital digunakan untuk membangun jembatan, bukan tembok.
Komentar
Posting Komentar